Tekanan Membuat Pria Belajar Lebih Baik


Ternyata pria dan wanita memiliki respon belajar yang berbeda saat berada di bawah tekanan. Para wanita mungkin belajar lebih baik saat mereka tidak didera oleh stres. Sedangkan para pria belajar lebih baik dalam keadaan stres yang akut. Suatu penelitian dengan tikus menunjukkan bahwa hormonlah yang melatarbelakangi keadaan tersebut.

Penelitian efek estrogen pada kemampuan tikus untuk belajar menciptakan sebuah pengertian yang lebih jelas tentang bagaimana hormon ‘wanita’ ini bekerja dalam otak. Temuan tersebut pada akhirnya dapat mengarah pada penemuan obat baru yang dapat melindungi para pria dan wanita dari kemunduran mental akibat penuaan.

“Estrogen lebih dari sekedar hormon reproduksi. Hormon yang terdapat pada pria dan wanita itu bekerja pada banyak tempat di otak ā€“ di hipotalamus, otak kecil dan hipokampus ā€“ dan mempengaruhi berbagai fungsi otak, termasuk konsentrasi dan memori,” kata Bruce McEwen, kepala laboratorium neuroendokrinologi di Rockefeller University New York City.

Para pria yang berada di bawah stres akut mampu belajar lebih baik. Sementara para pria yang berada di bawah stres kronis menunjukkan gangguan kognitif. Tetapi para wanita mungkin lebih mampu bertahan di bawah stres yang kronis. Demikian disebutkan oleh Prof. Tracey Shors, pemimpin penelitian ini.

Shors menekan tikus-tikus jantan dan betina secara terus menerus selama 30 menit. Kemudian tikus-tikus itu diajar untuk melakukan tugas-tugas baru. Dia kemudian mengevaluasi seberapa baik tikus-tikus tersebut melakukan tugasnya 24 jam kemudian.

“Dia menemukan bahwa paparan pengalaman di bawah tekanan tersebut menambah formasi memori baru pada tikus jantan, sementara paparan pengalaman yang sama melemahkan formasi ingatan pada tikus betina,” jelas McEwen. Profesor dari Rutgers University tersebut menemukan bahwa zat kimia dalam tubuh juga ikut berperan dalam apa yang dilakukan oleh stres terhadap proses belajar dan memori.

Pada tikus jantan, efek stres terhadap proses belajar dan memori tergantung pada tekanan hormon seperti glukokortikoid, sementara tikus betina tergantung pada hormon estrogen. Tetapi tikus betina lebih berhasil dibanding tikus jantan ketika mereka tidak berada dalam keadaan stres. Untuk lebih menegaskan hal ini pada manusia, diperlukan suatu penelitian yang lebih lanjut.

(sumber—-)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: